TAMAN SUCI SEROJA MERAH

TAMAN SUCI SEROJA MERAH
TAMAN SUCI SEROJA MERAH 1147
Showing posts with label keilmuan islam. Show all posts
Showing posts with label keilmuan islam. Show all posts

Saturday, 8 June 2013

Keikhlasan Dan Menghadirkan Niat Dalam Segala Perbuatan, Ucapan Dan Keadaan Yang Nyata Dan Yang Samar

Allah Ta'ala berfirman: "Dan tidaklah mereka itu diperintahkan melainkan supaya sama menyembah Allah, dengan tulus ikhlas menjalankan agama untuk-Nya semata-mata, berdiri turus dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat dan yang sedemikian itulah agama yang benar." (al-Bayyinah: 5)

Allah Ta'ala berfirman pula: "Samasekali tidak akan sampai kepada Allah daging-daging dan darah-darah binatang kurban itu, tetapi akan sampailah padaNya ketaqwaan dari engkau sekalian." [1] (al-Haj: 37)

Allah Ta'ala berfirman pula: "Katakanlah - wahai Muhammad [2], sekalipun engkau semua sembunyikan apa-apa yang ada di dalam hatimu ataupun engkau sekalian tampakkan, pasti diketahui juga oleh Allah." (ali-Imran: 29)

1. Dari Amirul mu'minin Abu Hafs yaitu Umar bin Al-khaththab bin Nufail bin Abdul 'Uzza bin Riah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin 'Adi bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib al-Qurasyi al-'Adawi r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda [3]: "Bahwasanya semua amal perbuatan itu dengan disertai niat-niatnya dan bahwasanya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itupun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang hendak diperolehnya, ataupun untuk seorang wanita yang hendak dikawininya, maka hijrahnyapun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu." (Muttafaq 'alaih -disepakati atas keshahihannya hadits ini karena diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Muttafaq 'alaih = diriwayatkan oleh dua orang imam ahli hadits yaitu Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Almughirah bin Bardizbah Alju'fi Al-Bukhari, -lazim disingkat dengan Bukhari saja- dan Abulhusain Muslim bin Alhajjaj bin Muslim Alqusyairi Annaisaburi, -lazim disingkat dengan Muslim saja- radhiallahu 'anhuma dalam kedua kitab masing-masing yang keduanya itu adalah seshahih-shahihnya kitab hadits yang dikarangkan.

Keterangan:
Hadis di atas adalah berhubungan erat dengan persoalan niat. Rasulullah s.a.w. menyabdakannya itu ialah karena diantara para sahabat Nabi s.a.w. sewaktu mengikuti untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah, semata-mata sebab terpikat oleh seorang wanita yakni Ummu Qais. Beliau s.a.w. mengetahui maksud orang itu, lalu bersabda sebagaimana di atas.

Oleh karena orang itu memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan maksud yang terkandung dalam hatinya, meskipun sedemikian itu boleh saja, tetapi sebenarnya tidak patut sekali sebab saat itu sedang dalam suasana yang amat genting dan rumit, maka ditegurlah secara terang-terangan oleh Rasulullah s.a.w.

Bayangkanlah, betapa anehnya orang yang berhijrah dengan tujuan memburu wanita yang ingin dikawin, sedang sahabat beliau s.a.w. yang lain-lain dengan tujuan menghindarkan diri dari amarah kaum kafir dan musyrik yang masih tetap berkuasa di Makkah, hanya untuk kepentingan penyebaran agama dan keluhuran Kalimatullah. Bukankah tingkah-laku manusia sedemikian itu tidak patut sama-sekali.

Jadi oleh sebab niatnya sudah keliru, maka pahala hijrahnyapun kosong. Lain sekali dengan sahabat-sabat beliau s.a.w. yang dengan keikhlasan hati bersusah payah menempuh jarak yang demikian jauhnya untuk menyelamatkan keyakinan kalbunya, pahalanyapun besar sekali karena hijrahnya memang dimaksudkan untuk mengharapkan keridhaan Allah dan RasulNya. Sekalipun datangnya hadits itu mula-mula tertuju pada manusia yang salah niatnya ketika ia mengikuti hijrah, tetapi sifatnya adalah umum. Para imam mujtahidin berpendapat bahwa sesuatu amal itu dapat sah dan diterima serta dapat dianggap sempurna apabila disertai niat. Niat itu ialah sengaja yang disembunyikan dalam hati, ialah seperti ketika mengambil air shalat atau wudhu', mandi, shalat dan lain-lain sebagainya.

Perlu pula kita maklumi bahwa barangsiapa berniat mengerjakan suatu amalan yang bersangkutan dengan ketaatan kepada Allah ia mendapatkan pahala. Demikian pula jikalau seorang itu berniat hendak melakukan sesuatu yang baik, tetapi tidak jadi dilakukan, maka dalam hal ini orang itupun tetap juga menerima pahala. Ini berdasarkan hadits yang berbunyi: "Niat seorang itu lebih baik daripada amalannya." Maksudnya: Berniatkan sesuatu yang tidak jadi dilakukan sebab adanya halangan yang tidak dapat dihindarkan itu adalah lebih baik daripada sesuatu kelakuan yang benar-benar dilaksanakan, tetapi tanpa disertai niat apa-apa.

Hanya saja dalam menetapkan wajibnya niat atau tidaknya, agar amalan itu menjadi sah, maka ada perselisihan pendapat para imam mujtahidin. Imam-imam Syafi'i, Maliki dan Hanbali mewajibkan niat itu dalam segala amalan, baik yang berupa wasilah yakni perantaraan seperti wudhu', tayammum dan mandi wajib, atau dalam amalan yang berupa maqshad (tujuan) seperti shalat, puasa, zakat, haji dan umrah. Tetapi imam Hanafi hanya mewajibkan adanya niat itu dalam amalan yang berupa maqshad atau tujuan saja sedang dalam amalan yang berupa wasilah atau perantaraan tidak diwajibkan dan sudah dianggap sah. Adapun dalam amalan yang berdiri sendiri, maka semua imam mujtahidin sependapat tidak perlunya niat itu, misalnya dalam membaca al-Quran, menghilangkan najis dan lain-lain.

Selanjutnya dalam amalan yang hukumnya mubah atau jawaz (yakni yang boleh dilakukan dan boleh pula tidak), seperti makan-minum, maka jika disertai niat agar kuat beribadah serta bertaqwa kepada Allah atau agar kuat bekerja untuk bekal dalam melakukan ibadah bagi dirinya sendiri dan keluarganya, tentulah amalan tersebut mendapat pahala, sedangkan kalau tidak disertai niat apa-apa, misalnya hanya supaya kenyang saja, maka kosonglah pahalanya.

2. Dari Ummul mu'minin yaitu ibunya -sebenarnya adalah bibinya- Abdullah yakni Aisyah radhiallahu 'anha, berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Ada sepasukan tentara yang hendak memerangi -menghancurkan- Ka'bah, kemudian setelah mereka berada di suatu padang dari tanah lapang lalu dibenamkan -dalam tanah tadi- dengan yang pertama sampai yang terakhir dari mereka semuanya." Aisyah bertanya: "Saya berkata, wahai Rasulullah, bagaimanakah semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedang diantara mereka itu ada yang ahli pasaran -maksudnya para pedagang- serta ada pula orang yang tidak termasuk golongan mereka tadi -yakni tidak berniat ikut menggempur Ka'bah?" Rasulullah s.a.w. menjawab: "Ya, semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, kemudian nantinya mereka itu akan diba'ats -dibangkitkan dari masing-masing kuburnya- sesuai niatnya masing-masing." Disepakati atas hadits ini (Muttafaq 'alaih) -yakni disepakati keshahihannya oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim-. Lafaz di atas adalah menurut Imam Bukhari.

Keterangan:
Sayidah Aisyah diberi gelar Ummul mu'minin, yakni ibunya sekalian orang mu'min sebab beliau adalah istri Rasulullah s.a.w., jadi sudah sepatutnya. Beliau juga diberi nama ibu Abdullah oleh Nabi s.a.w., sebenarnya Abdullah itu bukan puteranya sendiri, tetapi putera saudarinya yang bernama Asma'. Jadi dengan Sayidah Aisyah, Abdullah itu adalah kemenakannya. Adapun beliau ini sendiri tidak mempunyai seorang puterapun.

Dari uraian yang tersebut dalam hadits ini, dapat diambil kesimpulan bahwa seorang yang shalih, jika berdiam di lingkungan suatu golongan yang selalu berkecimpung dalam kemaksiatan dan kemungkaran, maka apabila Allah Ta'ala mendatangkan azab atau siksa kepada kaum itu, orang shalih itupun pasti akan terkena pula. Jadi hadits ini mengingatkan kita semua agar jangan sekali-kali bergaul dengan kaum yang ahli kemaksiatan, kemungkaran dan kezaliman.

Namun demikian perihal amal perbuatannya tentulah dinilai sesuai dengan niat yang terkandung dalam hati orang yang melakukannya itu. Mengenai gelar Ummul mu'minin itu bukan hanya khusus diberikan kepada Sayidah Aisyah radhiallahu 'anha belaka, tetapi juga diberikan kepada para istri Rasulullah s.a.w. yang lain-lain.

3. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, berkata: Nabi s.a.w. bersabda: "Tidak ada hijrah setelah pembebasan -Makkah-[4], tetapi yang ada ialah jihad dan niat. Maka dari itu, apabila engkau semua diminta untuk keluar -oleh imam untuk berjihad,- maka keluarlah –yakni berangkatlah." (Muttafaq 'alaih)

Keterangan:
Maknanya: Tiada hijrah lagi dari Makkah, sebab saat itu Makkah telah menjadi perumahan atau Negara Islam.

4. Dari Abu Abdillah yaitu Jabir bin Abdullah al-Anshari radhiallahu'anhuma, berkata: Kita berada beserta Nabi s.a.w. dalam suatu peperangan -yaitu perang Tabuk- kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya di Madinah itu ada beberapa orang lelaki yang engkau semua tidak menempuh suatu perjalanan dan tidak pula menyeberangi suatu lembah, melainkan orang-orang tadi ada besertamu -yakni sama-sama memperoleh pahala-, mereka itu terhalang oleh sakit -maksudnya andaikata tidak sakit pasti ikut berperang." Dalam suatu riwayat dijelaskan: "Melainkan mereka -yang tertinggal"

Thursday, 7 June 2012

Sejarah Ulama dan Dakwah di Tanah Melayu

Sejarah Ulama dan Dakwah di Tanah Melayu

Tanah Melayu telah menerima Islam kira-kira 700 tahun dahulu hasil usaha para pendakwah yang tidak mengenal penat dan lelah menyampaikan agama Allah kepada kita. Mereka meninggalkan tanah air dan merantau ke serata pelusuk dunia bagi menyebarkan ajaran Tauhid.Apa yang perlu kita lihat disini ialah kejayaan para ulama ini dalam menyampaikan dakwahnya sehingga seluruh Alam Melayu atau Nusantara dapat diIslamkan. Dakwah yang mereka bawa bukannya dengan pedang tetapi dengan kebijaksanaan. Mereka begitu dihormati sehingga orang Melayu yang kuat berpegang pada agama Hindu dan Buddha telah berjaya diIslamkan. Bukan sekadar rakyat jelata tetapi juga di kalangan raja-raja.

Hasil dari dakwah mereka, maka lahirlah ulama-ulama yang berwibawa sehingga orang Melayu amat cinta kepada Islam dan menjadi bangsa yang dihormati. Ulama-ulama seperti Syeikh Daud al-Fathani, Syeikh Ahmad al-Fathani, Syeikh Abdul Malek (Tok Pulau Manis), Tokku Paloh, Tok Kenali, Syeikh Muhammad Said al-Linggi dan sebagainya telah berjaya menyuburkan ruh Islam dalam masyarakat Melayu. Amalan kerohanian dan keagamaan bukan sahaja hidup di kalangan rakyat, malah pemerintah dan ulama bergandingan memerintah negeri. Contohnya Tokku Paloh yang menjadi regu kepada Sultan Zainal Abidin III di Terengganu. Para ulama di zaman itu amat dihormati pemerintah dan dikasihi rakyat.

Apa yang mahu difokuskan disini ialah kita sering lupa bahawa Tanah Melayu sudah mempunyai model-model dakwah yang perlu kita ikuti. Hal ini terjadi kerana kita kadang-kadang terlalu terpengaruh dengan idea dan pendekatan tokoh-tokoh Islam dari luar seperti Maulana Illias, Imam Hassan al-Banna, al-Maududi, Syed Qutub dan sebagainya, sehingga terlupa kepada ulama-ulama dan tokoh pendakwah yang telah berjaya membina Tamadun Islam di Tanah Melayu ini. Idea dan pendekatan dakwah yang kita ambil dari luar, walaupun mempunyai kebenaran dan terbukti berjaya di tempat mereka, tapi tidak semuanya sesuai dengan jiwa orang Melayu.

Sehingga hari ini, tokoh-tokoh pembaharuan Islam dalam masyarakat yang hebat dakwahnya di kalangan (jamaah) mereka masih tidak boleh menandingi kasih sayang dan ingatan masyarakat terhadap ulama-ulama dahulu. Ini dapat dilihat dimana sehingga kini kitab-kitab, ilmu dan sejarah mereka masih menjadi sebutan dibibir masyarakat. Maqam mereka masih dikunjungi, ilmu dan nasihat mereka masih memberi kesan pada jiwa anak Melayu.

Kalau ditanya pada orang-orang Kelantan, nasihat siapakah yang mereka akan dengar sama ada Tok Kenali atau ulama/pendakwah zaman ini, nescaya mereka akan memilih Tok Kenali, walaupun mereka tidak pernah melihatnya. Ini kerana pendekatan ulama tersebut memberi kesan kepada orang Melayu sehingga kehebatannya menjadi buah mulut dari satu generasi ke satu generasi. Oleh itu, kenapa kita perlu mengambil model yang jauh, sedangkan belum tentu ideanya akan berjaya di sini.

Apa yang diperhatikan, banyak gerakan Islam menjadi hancur pada kemuncaknya. Ada yang menjadi beku dan buntu dengan tidak tahu ke arah mana mereka mahu tuju. Programnya, sama ada program dalaman atau luaran streotaip sahaja, malah makin perlahan.Malah masyarakat semakin rosak walaupun pelbagai usaha yang mereka lakukan.

Idea menubuhkan parti sebagai wasilah untuk berdakwah dan menegakkan Islam juga semakin memperlihatkan banyak kelemahan. Ia bukan menjadi semakin kuat tetapi semakin lemah. Memang tidak dinafikan ia juga banyak memberi manfaat kepada Islam, dapat menghimpunkan masyarakat dan ulama supaya menerima idea-idea yang dilontarkan. Tapi, pada pandangan saya, adalah tidak praktikal menghimpunkan semua anggota masyarakat dalam parti kerana politik kepartian hanyalah salah satu daripada ribuan wasilah dakwah yang boleh dilakukan, sebagaimana istilah “bil hikmah – bijaksana” dalam al-Quran.

Apa yang dibimbangkan, apabila masing-masing asyik menumpukan kepada soal perebutan kuasa sesama sendiri, sibuk membida’ahkan sesama sendiri, sibuk menyalahkan sesama sendiri, sibuk untuk mendapat nama dan pengiktirafan – akhirnya penumpuan kepada agenda pembinaan manusia diabaikan tanpa kita sedari. Masyarakat semakin rosak, iman makin luntur dari jiwa mereka. Lebih malang lagi, keorsakan ini turut berlaku ke atas anak-anak para pendukung jamaah Islam sendiri.

Dalam satu kajian yang dilakukan oleh pakar motivasi Dato’ Dr. Fadhilah Kamsah, didapati 80% umat Islam hari ini tidak menyempurnakan dengan cukup sembahyang fardhu lima kali sehari. Semua orang tahu bahawa sembahyang merupakan tiang agama. Jika tiangnya sudah tiada, apa lagi kekuatan kekuatan yang ada pada bangsa Melayu Islam ini. Ingatlah kata-kata Saidina Umar al-Khattab (r.a) bahawa, “Bangsa Arab menjadi mulia bukan kerana ia Arab, tetapi Arab mulia kerana ia memilih Islam. Jika ia meninggalkan Islam, nescaya ia kembali menjadi hina”.

Hal yang sama boleh berlaku kepada bangsa Melayu. Islam juga telah membawa kemuliaan pada bangsa ini; dari bangsa yang menyembah dewa-dewa, pohon kayu dan perkara tahyul, Islam telah membawa mereka kepada Tuhan Semesta Alam. Umat Melayu diberi penekanan ilmu sehingga lahirnya dari nusantara ini ulama-ulama dan pemerintah yang dihormati. Islam telah membina jatidiri bangsa ini, Islam juga telah memberi kekuatan pada bangsa ini, namun bangsa ini akan hilang jatidirinya bila mereka meninggalkan Islam. Mereka akan menjadi bangsa yang lemah, idealogi dan budaya Barat dijadikan pegangan, dan menuju kehancuran. Apa yang dibimbangkan lagi, Allah akan menghina bangsa ini dan Allah memilih bangsa lain untuk menegakkan agamaNya.

Gerakan yang mendakwa mahu kembali kepada al-Quran dan Sunnah sehingga membida’ahkan beberapa amalan yang sudah hidup subur dalam masyarakat Islam, melarang bermazhab, menolak pengajian kitab tua dan sebagainya tidak akan berjaya walaupun pelbagai usaha dilakukan. Ini disebabkan idea tersebut bertentangan dengan pegangan para ulama-ulama tradisional yang amat dihormati masyarakat. Idea tersebut mungkin diterima di kalangan orang Melayu kelas menengah tetapi akan ditolak oleh orang Melayu ‘bawahan’. Golongan pertengahan pun belum tentu semuanya menerima idea itu kerana mereka juga tidak boleh menerima jika ada golongan yang mahu memperlekehkan atau menolak ulama-ulama dahulu. Apakah kelayakan golongan itu pada kacamata mereka untuk membida’ahkan ulama-ulama dahulu.

Begitu juga dengan golongan yang merendahkan para sahabat Nabi SAW. Mereka juga tidak boleh bertapak jauh walaupun tidak dinafikan ada segelintir orang yang terpengaruh dengan idea-idea tersebut. Kebanyakan mereka tidak mempunyai pengajian yang mendalam terhadap kitab-kitab para ulama dahulu. Justeru itu sebaiknya kita cuba menoleh kepada ulama-ulama dahulu dengan melakukan kajian yang mendalam sehingga kita makrifat (mengenal dengan sebenar-benarnya) pada mereka. Kita juga perlu mendalami dan mempelajari kehebatan ilmu, ibadah, akhlak, dakwah, politik dan kepimpinan mereka untuk dijadikan model dalam aspek pembinaan masyakat Islam di Malaysia. Dalam konteks negara kita, mereka merupakan role-model yang terbaik untuk kita ikuti.

Cuba kita lihat kejayaan para ulama dahulu dalam menyebarkan dakwah Islam. Contohnya Syarif Muhammad al-Baghdadi yang memulakan dakwah di Kuala Berang, Terengganu 700 tahun yang lampau, Wali Sembilan di Indonesia dan pengIslaman Kerajaan Pattani. Mereka telah berjaya mengembangkan Islam dengan meluas hasil kebijaksanaan dakwah mereka. Islam tidak sukar diterima sehingga dapat menukar budaya dan cara hidup Hindu/Buddha kepada cara hidup Islam secara beransur-ansur. Kebijaksanaan seperti inilah digunakan penjajah Inggeris dalam menyebarkan budaya mereka sehingga orang Melayu boleh menerimanya dan tidak ramai yang menentangnya, walaupun budaya penjajah bertentangan dengan budaya Melayu dan Islam.

CINTA KEPADA ALLAH, RASUL DAN SESAMA INSAN

CINTA KEPADA ALLAH, RASUL DAN SESAMA INSAN<br /><br />Cinta sesama manusia adalah fitrah yang telah dikurniakan oleh Allah yang Maha Esa. Semua orang teringin untik mengetahui bagaimanakah keadaan diri ini bila kita mencintai dan dicintai. Tak salah untuk berkasih, asalkan ianya kerana Allah. Jadi, laporan usrah kali ini akan membincangkan mengenai adab: kasih sayang kerana Allah, tafsir: Surah alFalaq, fiqh: khitbah(pertunangan) dan isu semasa sempena Maulidur Rasul.<br /><br />ADAB: Kasih sayang kerana Allah SWT<br /><br />Diriwayatkan daripada Anas bin Malik ra, beliau berkata: “Nabi Muhammad saw bersabda: Seseorang itu tidak akan merasai kemanisan iman sehinggalah dia mengasihi seseorang hanya kerana Allah, sehinggalah dicampak ke dalam api lebih disukainya daripada kembali kufur selepas Allah menyelamatkannya; dan sehinggalah Allah dan Rasulnya lebih dia cintai berbanding yang lain daripada kedua-duanya.” -Hadis riwayat al-Bukhari-<br /><br />Hadis ini jelas menerangkan tentang kasih sayang kerana Allah iaitu kita berkasih sayang kerana zat Allah semata-mata tanpa dicampuri oleh perasaan riak dan hawa nafsu. Antara pengajaran yang boleh kita dapat melalui hadis ini ialah:<br /><br />1.Mencintai Allah Taala kerana hendak menuntut keredhaanNya semata-mata<br /><br />Contohnya, kita suka berjihad kerana Allah. Mungkin bagi kita, berperang adalah jihad yang paling besar atau yang paling susah untuk kita lakukan. Tapi bagi para sahabat, berperang bagi mereka merupakan jihad yang paling kecil, jihad yang paling besar adalah bangun pada lewat malam untuk melakukan Qiamullail.<br /><br />2. Lebih memilih dilemparkan ke dalam api daripada memilih kekufuran<br /><br />Orang yang sempurna iman tak akan terbit daripadanya sesuatu yang boleh menjadikan dirinya orang kafir. Dia tidak akan mengingkari arahan-arahan Allah seperti menunaikan solat fardhu dan tidak akan menghalalkan perkara-perkara haram.<br /><br />3. Lebih mengutamakan kecintaan kepada Allah dan RasulNya berbanding yang lain.<br /><br />Pada pandangan orang yang beriman, hak Allah dan RasulNya adalah lebih utama/penting daripada hak ibu bapa, anak, isteri dan sesama manusia.<br /><br />TAFSIR: Surah alFalaq<br /><br />(1) Katakanlah Ya Muhammad: Aku berlindung kepada Tuhan yang menjadikan belahan.<br /><br />(2) Dari kejahatan (makhluk) yang Dia jadikan.<br /><br />(3) Dan daripada kejahatan malam apabila telah gelap-gelita.<br /><br />(4) Dan daripada kejahatan wanita-wanita (tukang sihir) yang menghembus (menjampi) pada simpulan-simpulan.<br /><br />(5) Dan daripada orang yang dengki apabila dia telah dengki.<br /><br />Maksud perkataan<br /><br />i)Menjadikan belahan: Membelah dan menampakkan sesuatu. Maksudnya, semua benda yang dibelah oleh Allah. Allah membelah bumi dengan tumbuh-tumbuhan, gunung dengan mata air, awan dengan hujan, rahim dengan anak<br /><br />ii) Malam: Malam yang gelap gelita<br /><br />iii) Apabila telah gelap-gelita: Bila malam menyelubungi dan melitupi semua hidupan<br /><br />iv) Pada simpulan-simpulan: Adakah ia bermaksud simpulan yang telah diketahui umum, ataupun hubungan kasih sayang dan silaturrahim<br /><br />Keterangan ayat<br /><br />(1)Katakanlah kepada mereka wahai Muhammad; Sesungguhnya aku berlindung dengan Tuhan semua makhluk. Makhluk yang terbit dari belahan bumi atau langit. (2) Aku berlindung denganNya daripada segala kejahatan dan penyakit yang menimpa diriku, keluarga, dakwah dan teman-temanku. (3)Aku berlindung denganMu daripada kejahatan malam apabila ia gelap gelita dan menyelubungi semua hidupan. Sesungguhnya kegelapannya menjadi tirai kepada semua penceroboh yang jahat. (4) Aku berlindung dengan Mu daripada jampi serapah yang dihembuskan kepada simpulan-simpulan. Maksudnya, aku berlindung dengan Mu daripada kejahatan manusia pengadu domba yang memutuskan ikatan kasih sayang. (5) Manusia pengadu domba berusaha memerah otak kerana ingin menimpakan keburukan terhadap orang yang didengkinya. Dia berusaha bersungguh-sungguh untuk menjayakannya. Tiada jalan untuk melepaskan diri daripadanya melainkan dengan berserah kepada Allah agar Dia melindungi kita daripada kejahatannya. Agar Dia menjaga kita daripada angkaranya. Sesungguhnya Dia berkuasa ke atas semua perkara.<br /><br />ISU SEMASA: Maulidur Rasul<br /><br />Semasa kelahiran Nabi Muhammad, pelbagai kejadian luar biasa yang berlaku. Antaranya:<br /><br />1. Tanah-tanah di persekitaran kawasan tersebut yang kering menjadi subur, pohon-pohon kayu rimbun dan berbuah lebat. Begitu juga haiwan-haiwan di darat dan di laut sibuk membincangkannya.<br /><br />2. Peperangan tentera bergajah yang disebut dalam alQuran, surah alFil, datang menyerang kota Mekah. Apabila mereka sampai ke tempat tersebut, gajah-gajah itu berhenti dan berundur dengan izin Allah.<br /><br />3. Dikatakan juga pada malam kelahiran baginda, berhala-berhala yang terdapat di situ mengalami kerosakan dan kemusnahan.<br /><br />4. Di tempat yang lain pula, satu goncangan berlaku di mahligai Kisra dan menyebabkan mahligai tersebut retak manakal empat belas tiang serinya runtuh. Keadaan ini merupakan tanda-tanda keruntuhan kerajaan tersebut.<br /><br />5. Api di negara Parsi yang tidak pernah padam hamper selama seribu tahun telah padam dengan sendirinya. Api tersebut merupakan api sembahan orang-orang Majusi yang dianggap sebagai Tuhan. Peristiwa itu amat mengejutkan orang Parsi.<br /><br />Peristiwa-peristiwa di atas jelas menunjukkan keistimewaan kelahiran Nabi Muhammad SAW kerana baginda merupakan khatamun nubuwwah, penutup segala nabi. Namun, ada sesetengah pendapat yang mengatakan hukum menyambut Maulidur Rasul adalah bid’ah. Tetapi, Imam Mutawalli Sha’rawi telah menulis dalam kitabnya, Ma’idat al-Fikr al-Islamiyya (ms. 295):<br /><br />"Jika setiap kejadian yang tidak bernyawa sekalipun, bergembira dengan kelahiran baginda SAW dan semua tumbuh-tumbuhan pun bergembira malahan semua binatang pun bergembira dan semua malaikat pun bergembira dan semua jin Islam bergembira diatas kelahiran baginda SAW, kenapa kamu menghalang kami daripada bergembira dengan kelahiran baginda SAW?"<br /><br />Upacara sambutan Maulidur Rasul adalah harus selagi ia tidak melibatkan unsur-unsur pembaziran dan tiada aktiviti yang melanggar syariat. Malah jika perisian sambutan itu ada unsur ilmu dan ibadah ia tetap diberi ganjaran pahala oleh Allah Subhanahu Wa Taala.<br /><br />Upacara memperingati hari kelahiran Rasulullah saw ini telah dilakukan sejak 300 tahun sesudah Rasulullah wafat. Diantara pembesar yang menganjurkan sambutan ini ialah Malik Muzhaffar Abu Sa'id penguasa Irbil, Iraq. Dan seterusnya ia berkembang sehinggalah sekarang.<br /><br />Selain itu, Rasulullah SAW biasanya menghubungkaitkan ibadah dan sejarah dan kebiasaannya apabila tiba hari yang bersejarah tersebut, baginda mengingatkan kepada para sahabat akan hari tersebut dan supaya mereka menyambutnya walaupun peristiwa itu telah berlaku beribu-ribu tahun yang lampau.<br /><br />Dalil mengenai perkara ini dapat dilihat didalam hadith yang diriwayatkan oleh Bukhari dan perawi-perawi yang lain iaitu, "Apabila Rasulullah SAW tiba di Madinah beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Baginda pun bertanya kepada mereka mengenai hari tersebut dan mereka pun berkata, pada hari tersebut, Allah telah menyelamatkan Nabi mereka, Musa dan menenggelamkan musuhnya dan kerana peristiwa itu mereka berpuasa sebagai tanda kesyukuran kepada Allah diatas anugerah tersebut." Rasulullah setelah itu terus bersabda yang mana hadis ini merupakan hadis yang cukup terkenal," Kami lebih berhak keatas Musa daripada kamu," dan baginda berpuasa pada hari tersebut (Asyura) dan hari sebelumnya.<br /><br />Berdasarkan perkara-perkara diatas, adalah tidak tepat pendapat yang mengatakan bahawa sambutan Maulidur Rasul adalah bid'ah dhalalah dan bertentangan dengan syariat.<br /><br />FIQH: Khitbah (pertunangan)<br /><br />Kesemua ciptaan Allah mempunyai perasaan bagaimanapun, terdapat perbezaan antara perasaan manusia dan perasaan haiwan. Bezanya, manusia pandai mengawal perasaannya dengan menggunakan akal fikiran yang telah dikurniakan oleh Allah SWT. Mungkin ada sesetengah daripada kita yang tak mampu untuk mengawal perasaannya. Jadi, nabi kita telah berpesan di dalam hadis yang bermaksud,<br /><br />“Wahai golongan pemuda, barangsiapa yang mampu berkahwin maka berkahwinlah kerana hal itu akan menundukkan pandangan &amp; membentengi kemaluan. Barangsiapa yang tidak mampu, maka wajiblah berpuasa kerana puasa adalah penawar kepada nafsu syahwat baginya.” (Riwayat Bukhari &amp; Muslim)<br /><br />Dalam erti yang lain, hadis ini juga bermaksud dengan berkahwin, kita dapat mengawal nafsu kita. Sebelum melangkah ke gerbang perkahwinan, kita disunatkan untuk bertunang terlebih dahulu mengikut Mazhab Shafie. Antara hadis yang mensyariatkan khitbah ialah:<br /><br />إذا خطب أحدكم المرأة فإن استطاع أن ينظر إلى ما يدعوه إلى نكاحها فليفعل<br /><br />Apabila salah seorang daripada kalian hendak meminan

Ilmu Mengenal Allah

Ilmu Mengenal Allah

Islam adalah agama yang mengajar manusia apa yang tidak diketahui, al-Quran memecahkan kegelapan dunia dengan cahayanya, menunjukkan kebaikan dan kejahatan supaya jelas dan terang petunjuk daripada Ilahi ke seluruh alam.

Ciri orang mulia sentiasa cari jalan menuju Illahi dengan menimba ilmu

KETIKA membincangkan mengenai makrifat seorang hamba kepada Allah , Al-Imam Ibnul Jauzi dalam kitabnya Shaydul Khatir berkata:

"Alangkah ramainya orang alim dan orang yang zuhud tidak dianugerahi makrifat, kecuali mereka memiliki makrifat seperti orang awam atau kutu lepak. Boleh jadi alangkah ramainya orang awam yang dianugerahi makrifat, sesuatu yang tidak dikurnia kepada orang alim dan orang zuhud padahal mereka sudah berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya. Makrifat ialah anugerah Allah yang dilimpahkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya."

Renungan mendalam yang cuba diungkapkan Al-Imam Ibnul Jauzi ini menakutkan kita yang diberi gelaran pelajar dan terpelajar, ulama, cerdik pandai dan ilmuwan. Bukankah semakin tinggi ilmu yang dituntut akan semakin dekat seseorang itu kepada Allah .

Tetapi mengapa al-Quran menyindir orang yang diberi al-Kitab tetapi lupa diri melalui firman-Nya yang bermaksud:

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajipan) mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir?" (Surah Al-Baqarah, ayat 44)

Walaupun begitu tidak boleh dinafikan salah satu punca seseorang mendapat makrifat ialah ilmu mengenai Allah . Tidakkah kita berasa peningkatan iman yang ketara selepas mengkaji ilmu Islam secara lebih mendalam?

Benarlah sabda Baginda SAW yang bermaksud:

"Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang maka Ia memberinya kefahaman mengenai agamanya." (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Agama Islam sudah diajarkan dengan begitu sempurna oleh Baginda SAW sehingga melahirkan generasi bukan hanya bijak dan pandai tetapi hidup jiwanya dan terang mata hatinya seperti pernah diriwayatkan mengenai al-Harith bin Malik al-Ansari ketika beliau bertemu Rasulullah SAW.

Lalu Baginda bertanya kepadanya: "Wahai Harith, bagaimana keadaan iman kamu pada hari ini? Beliau menjawab: Hari ini saya beriman dengan sesungguhnya. Kemudian Baginda bersabda: Cuba tunjukkan hakikat kebenaran yang kamu katakan, kerana segala sesuatu tentu memiliki hakikat kebenaran, jadi apakah hakikat kebenaran imanmu? Beliau menjawab: Sungguh diri saya sudah jemu dengan dunia, sehingga malam hari saya habiskan untuk beribadah dan siang hari berpuasa sehingga seolah-olah saya melihat Arasy Allah dengan sangat jelas, saya melihat ahli syurga sedang kunjung mengunjungi dan penduduk neraka merintih menahan seksa. Kemudian Baginda bersabda: ìWahai Harith, kamu sudah mengetahui, maka istiqamahlah, (Rasulullah SAW mengulangi sabdanya sampai tiga kali)." Hadis riwayat Ibnu Hibban.

Selepas melalui proses didikan di bawah asuhan wahyu, akhirnya sahabat tadi mencapai kemuncak ketinggian ilmunya. Jemu dengan dunia maknanya apa yang diusahakan di dunia ini sudah pun dicapai dengan jayanya, bukan bermakna beliau membenci dunia bahkan menguasai dan memegang kendali dunia. Bagaimanakah cara mencapai apa yang diperoleh sahabat Al-Harith ini?

Hakikatnya orang yang menuntut ilmu mempunyai beberapa tingkatan bergantung dengan seberapa jauh penguasaannya mengenai agama ini. Jibrail pernah mengajarkan kepada Baginda SAW asas penting mengenai Islam, iman dan ihsan.

Tingkatan pertama berada pada kelas permulaan mendapat jolokan Muslim, kemudian disebutkan ciri iman maka orang yang menuntut pada peringkat ini masuk dalam kategori mukmin dan terakhir yang paling tinggi serta sempurna ialah muhsin iaitu mereka yang bersikap ihsan.

Orang muhsin berada pada peringkat ilmu tertinggi, memiliki perasaan halus mengenai Allah . Dia menjadi pendengarannya dengan itu ia mendengar, menjadi penglihatannya dengan itu ia melihat dan menjadi tangannya dengannya ia memukul dan menjadi kakinya dengannya ia berjalan.

Satu lagi sifat mulia pada diri seorang yang ihsan ialah rasa diawasi Allah . Bayangkanlah bagaimana jika seseorang mengawasi kita, pasti rasa terkongkong, terpenjara dan menderita tetapi berlainan dengan rasa diawasi Allah , ia menjadi suatu kenikmatan yang tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata.

Rasulullah bersabda yang bermaksud:

"Seolah-olah kamu melihat Allah , jika kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihat kamu." (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Tingkatan ilmu inilah yang disebut ahli makrifah. Antara ciri orang yang diberi makrifah oleh Allah ialah berminat mencari jalan menuju Allah , dekat di sisi-Nya dan mengharap reda-Nya. Jalan menuju Allah mestilah dengan mencari ilmu, meneroka rahsia al-Quran, mengambil petunjuk hadis Rasulullah SAW.

Jika seseorang sudah meningkat kefahamannya mengenai agama, akan lahir satu perasaan halus memujuk jiwanya supaya beralih minat daripada unsur berorientasi duniawi kepada bisikan Allah yang menguasai diri.

Anda akan merasai ketenangan apabila berzikir, juga kepuasan ketika mencapai ketinggian ilmu, bahkan kenikmatan apabila menambah yang wajib dengan amalan sunat. Ibadah bukan lagi bebanan berat bahkan cara untuk merehatkan jiwa dan raga. Sudahkah kita mencapai peringkat ini?

Untuk melonjakkan diri kita ke tingkat iman lebih tinggi, sewajarnya kita tidak berehat terlalu lama meninggalkan majlis ilmu, bagaimana mungkin kita meninggalkan proses belajar ilmu yang mengungkap rahsia khusyuk solat.

Ilmu rahsia mengenal Allah melalui ayat-Nya, ilmu mencintai dan membela Rasul SAW, ilmu mengenai akhlak yang mengajar kaedah bermuamalah dan toleransi sesama insan, ilmu jiwa yang mengungkap sifat reda, sabar, tawakal, khauf dan raja', supaya kita boleh mengawal emosi yang mempermainkan hati.

Ilmu mengenai amanah yang mengajak kita bertanggungjawab sebagai seorang bapa, ketua memimpin manusia dan anggota masyarakat yang sedar kewajipan amar makruf nahi mungkar. Islam menyediakan segala-galanya yang diperlukan manusia supaya dia boleh berdiri sebagai khalifatullah.

Islam adalah agama ilmu yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui, al-Quran memecahkan kegelapan dunia dengan cahayanya, menunjukkan kebaikan dan kejahatan supaya jelas dan terang petunjuk daripada Ilahi ke seluruh alam.

Wahyu pertama turun ialah suruhan membaca yang harus dilanjutkan dengan mengkaji, memahami, mendalami, menghayati, beriman, kemudian mengamalkan juga bersabar untuk terus istiqamah, akhirnya membela apa yang diimani itu sehingga Allah reda ke atas diri kita.

Begitulah proses perjalanan makrifah seorang hamba. Mungkin kita masih berada pada salah satu mata rantai daripada proses itu, entah naik entah turun. Ramai orang yang sudah sampai pada peringkat iman tetapi kurang sabar akhirnya jatuh kembali ke bawah.

Racun duniawi nyata memberi perlawanan hebat untuk menghancurkan binaan iman yang lama kita perjuangkan. Sekuat apapun usaha untuk mendapat makrifat, tidak akan dapat mampu dimiliki melainkan atas kehendak Allah .

"Ya Allah kuserahkan jiwa ragaku. Sebagaimana Engkau jadikannya sebagai milik-Mu maka jadilah Engkau sebagai walinya yang merahmati, menunjukkan dan menjaganya daripada kejahatan diriku sendiri.


source: http://cahayamukmin.blogspot.com/2012/03/ilmu-mengenal-allah.html#ixzz1x5viKGV4

Sunday, 13 November 2011

Keutamaan Berjihad

Allah Azza Wa Jalla berfirman:
"Orang-orang yang mukmin hanyalah orang-orang yang percaya kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwanya dijalan (agama) Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar" (QSAl-Hujurat:15)

Dari Nukman bin Basyir ra, dia berkata: "Aku sedang berada di sebelah mimbar Rasulullah SAW. Seorang lelaki berkata: "Aku tidak peduli. Setelah Islam ini, aku hanya akan memberi minum kepada orang yang mengerjakan haji." Yang lain berkata: "Aku tidak peduli. Setelah Islam ini aku hanya akan membangunkan Masjidil Haram saja." Kemudian yang lain lagi mengatakan: "Jihad lebih utama dan apa yang kalian katakan itu." Maka Umar r.a membentak mereka dan berkata: "Janganlah kamu mengeraskan suaramu di sebelah mimbar Rasulullah SAW."

Ketika itu hari Jumaat. Setelah solat Jumaat, aku datang kepada Rasulullah SAW untuk meminta fatwanya tentang apa yang diperdebatkan itu. Kemudian Allah SWT menurunkan ayat:

"Adakah kamu jadikan jabatan beri air orang haji dan memperbaiki Masjidil Haram, sama dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari yang kemudian, serta berjuang (berjihad) di jalan Allah? Sekali-kali ia tidak sama mereka itu di sisi Allah. Allah tiada menunjuki kaum yang aniaya." (QS At Taubah:19)

Dari Abdullah bin Salman r.a, dia berkata: "aku duduk dalam sekumpulan sahabat Rasulullah SAW. Kami berkata: "Kami tidak tahu amal apakah yang paling utama dan paling disukai Allah. Beritahukan hal itu kepada kami!" Kemudian Allah menurunkan ayat: 

"Telah bertasbih kepada Allah apa-apa yang di langit dan apa-apa yang ada di bumi, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Hai orang-orang mukmin, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah, kerana kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat. Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berperang pada jalan-Nya, dengan berbaris-baris, seolah-olah mereka bangunan tembok yang sangat rapat (menjadi satu)." (QS AshShaf: 1-4). 

Dirawikan bahawa seorang lelaki berkata kepada Rasulullah SAW: "Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku amal yang dapat memenangi jihad!" Rasulullah menjawab: "Aku tidak menemukannya." Kemudian Rasulullah SAW bersabda: 

"Apakah kamu mampu ketika seorang mujahid (pejuang) keluar, lantas kamu pergi ke masjid solat tanpa henti dan berpuasa tanpa berbuka?" 

Lelaki itu berkata: "Siapa yang mampu demikian?" 

Dan Abu Hurairah r.a dia berkata: "Seorang lelaki dari sahabat Rasulullah saw, melalui suatu kaum yang di situ terdapat air yang menyegarkan. Lelaki itu berbicara dalam hatinya: "Kalau aku memisahkan diri dan orang-orang dan aku tinggal di kampung ini.... Tapi aku tidak akan berbuat sebelum minta izin Rasulullah SAW." Kemudian lelaki itu menanyakannya kepada Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW bersabda: 

"Janganlah kamu berbuat demikian. Sesungguhnya salah seorang kamu berjuang di jalan Allah lebih utama daripada solat di rumahnya tujuh puluh tahun. Tidak inginkah Allah mengampunimu dan memasukkanmu ke syurga? Berperanglah di jalan Allah! Siapa terbunuh di atas unta, dalam perjuangan di jalan Allah, pasti dia mendapatkan syurga." 

Bilamana seorang sahabat besar tidak diizinkan oleh Rasuluilah SAW beruzlah beserta kesungguhannya dalam taat dan memberikan kebaikan, bahkan beliau menyuruhnya supaya berjihad, maka bagaimana dengan kita yang meninggalkan jihad dengan ketaatan yang amat sedikit pula, ditambah keburukan yang banyak, tidak tahu hal yang dihalalkan dan rosak pula niatnya? 

Rasulullah SAW bersabda: 

"Ibarat pejuang di jalan Allah, dan Allah Maha Mengetahui orang yang berjuang di jalan-Nya, seperti orang yang berpuasa, yang khusyuk solatnya, yang rukuk dan sujud" 

Dan baginda bersabda lagi; "Siapa yang rela dengan Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul, pasti dia mendapatkan syurga." Abu Said al-Khudri merasa hairan, maka berkata: "Ulangilah wahai Rasulullah!" Rasulullah lalu mengulanginya untuk Said, kemudian bersabda: "Yang lebih indah lagi Allah mengangkat dengannya untuk hamba seratus darjat di mana antara dua darjat bagaikan antara langit dan bumi." Said berkata: "Apa itu, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Ialah berjihad di jalan Allah."

Sesungguhya jihad yang paling agung disisi Allah adalah berjuang menegakkan kalimah-Nya dengan harta dan jiwa. Dan jihad di medan perang menentang musuh-musuh Allah sehingga mendapatkan syahid adalah sebenar-benar jihad yang dicintai Allah dan Rasulullah SAW. Mana mungkin ada yang sanggup menggadai usia muda justeru meninggalkan kehidupan dunia yang penuh dengan kenikmatan. Sabda Nabi SAW, "Kebinasaan sebenarnya ialah sibuk mencari dan melonggok harta  serta meninggalkan peperangan. Abu Ayub terus berada di jalan Allah hingga dia dikebumikan di bumi Rom." [HR al Tirmizi]

Sumber: Terjemahan Kitab MUKASHAFAH AL QULUB bab 96

Sunday, 21 August 2011

Seorang diantara 7 Wali Allah di Tanah Melayu

Antara 7 Wali Allah di Tanah Melayu :: As-Sayyid Habib Nuh Al-Habsyi Rahimahullah 1788M – 1866M ::
Nasab dan keturunan

Nama penuh beliau ialah As-Sayyid Habib Noh bin Muhammad Al-Habsyi. Beliau yang datang dari Kedah adalah merupakan seorang yang berbangsa arab berasal dari Yaman dan asal-usul keturunan beliau juga adalah daripada keturunan Rasulullah s.a.w. menerusi nasab Zainal Abidin bin Sayidina Hussein r.a. Tidak banyak maklumat yang diketahui tentang kehidupan awal beliau. Beliau yang hidup sekitar tahun 1788M – 1866 M datang dari keluarga empat adik-beradik lelaki iaitu Habib Nuh, Habib Ariffin dan Habib Zain (kedua-duanya meninggal di Pulau Pinang) dan Habib Salikin, yang meninggal di Daik, Indonesia.

Dari perkahwinan beliau dengan Anchik Hamidah yang berasal dari Province Wellesley, Pulau Pinang, mereka dikurniakan hanya seorang anak perempuan bernama Sharifah Badaniah. Sharifah Badaniah kemudiannya berkahwin dengan Syed Mohamad bin Hassan Al-Shatri di Jelutong, Pulau Pinang. Pasangan ini kemudiannya memberikan Habib Noh hanya seorang cucu perempuan bernama Sharifah Rugayah. Dia berkahwin dengan Syed Alwi bin Ali Aljunied dan mereka mempunyai lima anak, dua lelaki dan tiga perempuan bernama Syed Abdul Rahman, Syed Abdullah, Syarifah Muznah, Sharifah Zainah dan Sharifah Zubaidah.

Dari banyak sumber yang diperolehi, Habib Nuh tiba ke Singapura tidak lama setelah Sir Stamford Raffles mendarat di pulau itu. Usianya pada ketika itu mencecah tiga puluhan tahun. Walaupun beliau telah menghabiskan saki-baki usianya di Singapura dan meninggal dunia di sana, beliau banyak berjalan, terutamanya ke Johor Bahru dan negeri-negeri lain di Malaysia untuk berdakwah. Beliau adalah seorang yang amat warak. Waktu malamnya beliau gunakan untuk solat hingga terbit fajar. Dan beliau kerap berkunjung ke makam-makam (tanah perkuburan), selalu mendoakan roh-roh yang telah meninggalkan jasad. Beliau sentiasa berjalan bersama-sama kawan-kawan rapat melainkan bila dia secara spesifik meminta untuk bersaorangan diri. [5]

Karamah

Di sini, saya ingin bekongsi bersama pembaca mengenai kemuliaan yang Allah kurniakan kepada beliau. Banyak Karamah yang dibuktikan oleh mereka yang hidup sezaman dengan beliau. Tetapi, tidak ramai yang dapat menyelami peranannya sebagai orang kerohanian yang sentiasa dirinya hampir dengan Allah SWT. Kerana peranan sebagai Rijalullah atau Rijalulghaib ini amat simbolik dan sukar difahami menerusi bahasa dan pengertian yang zahir sedangkan tugas mereka juga besar. Antara kurniaan Karamah yang diberikan Allah swt adalah seperti berikut;

1. Menghadiri Sidang Wali-wali. [6]

Mengenai keistimewaan dan ketinggian kedudukan Habib Nuh, Pakcik Muhammad Abu Bakar, 102 tahun, khadam kepada Syeikh Haji Said Al Linggi r.h. menceritakan satu peristiwa yang berlaku ke atas gurunya yang ada kaitan dengan As Sayid Habib Nuh:

Pada satu hari seperti biasa Syeikh Muhammad Said masuk ke bilik suluk khas selepas sembahyang jemaah Asar. Seperti biasa juga, Pakcik Muhammad menunggu di luar bilik kalau2 beliau dipanggil masuk oleh gurunya untuk satu2 hajat. Tetapi pada petang itu beliau tidak dipanggil, dan gurunya keluar dari bilik suluk itu apabila hampir masuk waktu Maghrib dan terus sembahyang jemaah Maghrib bersama anak2 muridnya.

Malam itu Syeikh Said tidak mengajar. Selesai sembahyang sunat, beliau bercakap dengan Pakcik Muhammad secara empat mata.

“Engkau tahu aku pergi ke mana tadi?” kata Syeikh Said.

“Saya tidak tahu,” jawab Pakcik Muhammad dengan beradab.

“Aku pergi bersidang di Bukit Qhauf. Aku dan Habib Nuh sahaja yang mewakili umat sebelah sini. Rasulullah SAW juga hadir, dan engkau jangan cerita berita ini kepada sesiapa sebelum aku mati.”

Pakcik Muhammad Abu Bakar menyimpan amanat ini sehingga beliau memberitahu penulis sewaktu di temui di rumahnya di Seremban pada tahun 1991. Syeikh Said Linggi meninggal dunia pada tahun 1926. Menurut Pakcik Muhammad, Bukit Qhauf itu duduknya di luar daripada alam Syahadah. Wallahua’lam.

“Walaupun persidangan itu dihadiri oleh Rasulullah SAW tetapi ia dipengerusikan oleh orang lain, tak tahulah siapa orang istimewa itu,” tambah Pakcik Muhammad. “Bila ditanya siapa orang yang mempengerusikan majlis itu, Syeikh Said tidak memberitahu.”

Syeikh Said jua memberitahu bahawa majlis yang dihadiri oleh beliau dan Habib Nuh ialah persidangan wali2 yang membincangkan antara lain tentang satu wabak yang akan turun, yakni wabak cacar. Dan para wali yang bersidang itu mohon bala itu supaya tidak turun. Alhamdulillah, makbul. Tetapi menurut Pakcik Muhammad, “tempiasnya” masih mengenai orang ramai sehingga ramai yang mati terutamanya orang2 kafir. [Wabak cacar pada masa itu merupakan penyakit yang sangat bahaya dan belum ditemui ubatnya].

“Saya tiga hari pengsan dan bahu saya masih berparut diserang wabak cacar itu. itupun Syeikh Said yang mengubatnya,” kata Pakcik Muhammad sambil menunjuk parut cacar di atas bahunya.

Cerita ini menggambarkan peranan tersembunyi As Sayid Habib Nuh sebagai “pencatur dunia” yang mana kenyataan ini sukar diterima oleh mereka yang hanya menggunakan akal menilai sesuatu kebenaran.

2. Menunduk Gabenor Yang Angkuh. [7]

As Sayid Habib Nuh dikurniai Allah berbagai2 karamah sebagai tanda kemuliaan pada dirinya. Pelbagai cerita mengenai kewalian dan karamah beliau dibawa dari mulut ke mulut sehinggalah kepada Sayid Hassan Al Khattib, penjaga makam Habib Nuh r.h. Di antaranya adalah seperti berikut :

As Sayid Habib Nuh bersikap tidak menghormati orang2 yang angkuh dengan kekayaan atau jawatan duniawi. Begitulah, walaupun orang menghormatinya atau takut kepada Crawford, Gabenor Singapura ketika itu tetapi Habib Nuh tidak takut kepada wakil penjajah itu.

Dalam satu peristiwa, Gabenor Crawford marah dan menghina Habib Nuh kerana beliau tidak menghormatinya. Tiba2 sahaja kereta kuda yang dinaiki gabenor itu terlekat di bumi dan tidak dapat bergerak. Gabenor naik marah dan bertanyakan hal itu kepada pengiringnya. Tetapi pengiring itu bertanya kepada tuan gabenornya, “Tahukah tuan siapakah orang yang tuan marah dan hina itu?”

Gabenor menjawab, “Itu orang gila.”

“Sebenarnya dia bukan gila tetapi dia orang baik dan ada karamah. Lihat, bila tuan marah kepada dia, dia sumpah dan sekarang kereta tuan tidak dapat bergerak,” jelas pengiringnya.

Gabenor menjadi takut dan akhirnya meminta maaf dengan Habib Nuh. Setelah Habib Nuh menepuk2 kaki kuda itu, barulah kuda itu berjalan pantas seperti biasa. Sejak itu gabenor sedar betapa As Sayid Habib Nuh mempunyai kelebihan luar biasa.

Bagaimanapun, pada satu ketika gabenor terus bersikap bongkak dan sombong dan memerintahkan orang-orangnya menangkap Habib Nuh dan mengurung di dalam penjara dengan kaki dan tan

Definisi Sufi dan Tasauf / Tassawuf

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

SEBAGAI memulakan siri pengenalan dan penjelasan kita terhadap tasauf dan dunianya marilah kita melihat makna istilah tasauf dan sufi itu sendiri. Terdapat banyak pendapat ulama mengenai kata asal tasauf.

Ini kerana, perkataan sufi pada asalnya diambil atau berasal daripada suatu benda atau perkara yang dinisbahkan kepadanya.

Di antaranya:

1. Perkataan sufi berasal dari nama seorang lelaki yang dipanggil Sufah. Nama sebenarnya ialah al-Ghauth ibnu Mur ibn Ud ibnu Tabikhah ibn Ilyas ibnu Mudhar. Beliau telah menumpukan seluruh kehidupannya hanya untuk beribadat kepada Allah di Masjid al Haram.

Daripada perbuatannya itu, nama sufi dinisbahkan kepada namanya. (al Fairuz Abadi, Qamus al-Muhit, Jld 2. H: 1105).

Ada ulama yang menolak pandangan ini kerana jika sufi sememangnya dinisbahkan kepada nama orang yang kuat beribadat, maka nama para sahabat dan tabien lebih layak dinisbahkan kepada sufi kerana kedudukan mereka yang lebih tinggi dan mulia.

2. Sebahagian ulama yang lain pula berpendapat, nama sufi dinisbahkan kepada perkataan suf iaitu pakaian yang dibuat daripada bulu kambing. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Taimiyyah, al Suhrawardi (Awarif al Ma’arif. H: 41) dan Ibnu Khaldun (Muqaddimah Ibni Khaldun, H: 517) berdasarkan beberapa perkara.

3. Dikatakan juga perkataan sufi dinisbahkan kepada Ahli Suffah. Iaitu, mereka yang tinggal di anjung Masjid Nabawi di Madinah yang disediakan oleh Rasulullah SAW untuk sahabat-sahabat yang miskin.

Di antaranya, sahabat baginda, Abu Hurairah, Abu Zar dan Abu Darda’ kerana mereka mempunyai persamaan dengan orang sufi dari segi hubungan dengan Allah. Mereka telah memutuskan hubungan dengan dunia dan meluangkan masa untuk beribadat.

Pendapat ini ditolak, kerana dari segi bahasa, sekiranya mereka menyandarkan kepada Ahli Suffah, maka mereka akan dipanggil sebagai Suffi, iaitu dengan dua fa, sedangkan perkataan sufi hanya mempunyai satu fa.

Pengarang Qamus al-Muhit menyatakan, bahawa sandaran nama ini adalah salah dari segi tatabahasa Bahasa Arab.

4. Dikatakan ia berasal daripada perkataan sof iaitu saf hadapan, kerana orang-orang sufi akan berdiri di saf-saf hadapan ketika menghadap Allah di akhirat kelak. Ini juga tidak tepat dari segi bahasa, kerana sekiranya nama sufi disandarkan kepada perkataan sof, maka sudah tentu ia disebut sebagai soffi bukannya sufi.

5. Dikatakan juga, perkataan tasauf dinisbahkan kepada makhluk pilihan Allah (sofwah). Ini juga tidak tepat dari sudut bahasa, kerana mengikut bahasa, orang yang terpilih disebut di dalam Bahasa Arab sebagai Sofawi.

6. Dinisbahkan kepada Sufanah yang bermaksud tumbuhan di padang pasir. Ini kerana, mereka hidup memadai dengan makanan yang sedikit seperti tumbuh-tumbuhan yang berada di padang pasir.

Pendapat ini juga tidak betul kerana mengikut Bahasa Arab, sekiranya dinisbahkan kepada Sufanah maka ia menjadi Sufani bukannya sufi.

7. Dikatakan, perkataan sufi berasal dari perkataan Sufah al-Qafa (rambut-rambut yang tumbuh di hujung bahagian belakang kepala) kerana ahli sufi memalingkan pandangan mereka daripada makhluk dan menghadapkan pandangan mereka kepada Allah.

8. Dikatakan perkataan sufi berasal dari perkataan sofaa, yang bermaksud suci. Sekalipun terdapat pendapat yang menyangkalnya dari segi bahasa, namun ini adalah pendapat yang sahih dan dipersetujui oleh kebanyakan ulama.

Abu al-Fath al-Busti r.a (wafat 401 H) pernah menyatakan dalam syairnya:

“Manusia telah bercanggah pendapat di dalam memberikan makna sufi dan mereka telah berselisih pendapat padanya, mereka menyangka bahawa ia terbit daripada perkataan suf (pakaian bulu kambing);

“Dan aku tidak sekali-kali memberikan nama ini melainkan kepada pemuda yang mensucikan dirinya, maka ia menjadi suci sehingga dinamakan sebagai sufi”.

Mereka dinamakan sufi kerana dinisbahkan kepada perkataan Sofaa disebabkan Ahli Sufi memandang kepada batin atau dalaman sesuatu perkara, ketika manusia memandang kepada zahirnya.